// // Leave a Comment

Misinformasi di Sosial Media

misinformasi

Pada zaman yang serba digital seperti sekarang ini, suatu informasi dengan gampangnya tersebar di media-media sosial. Beragam media sosial menjadi potensi misinformasi atau ketidakbenaran pengetahuan yang dibagikan. Misinformasi terjadi saat suatu informasi yang keliru disebarluaskan dan tanpa tujuan menjadikan informasi yang asli menjadi tidak valid atau tidak berguna.
Orang yang menerima informasi tersebut pun tidak semuanya punya sifat mencari tahu dahulu sebelum membagikannya ke orang selanjutnya. Sehingga informasi yang salah tersebut menyebar dengan cepat. Hal ini pun menjadi timbal balik terhadap informasi yang memang benar. Informasi yang benar yang kita terima dimedia sosial pun dinyatakan sebagai Hoax.
Misalnya menyebarkan informasi tentang tes CPNS yang diselenggarakan oleh Kementrian Keuangan di Indonesia pada September tahun 2017. Informasi tersebut menyatakan pendaftaran CPNS oleh KEMENKEU telah dibuka. Padahal dari website resminya sendiri belum ada informasi pembukaan pendaftaran tes CPNS.
Misinformasi juga dapat menelan korban jiwa seperti kejadian di India. Informasi yang beredar di grup whatsapp disaat itu heboh tentang kasus penculikan. Diduga terdapat orang yang diduga sebagai pelaku penculik anak. Dua orang tersebut lalu dipukuli dan dibunuh warga tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya.
Misinformasi juga menyebabkan kasus Scam, atau yang disebut dengan berita elektronik yang membohongi dan bersifat menipu. Contohnya informasi yang disebarkan mengandung suatu tautan yang dapat mengkoleksi informasi bagi pelaku scam. Orang yang percaya terhadap informasi tersebut langsung mengklik tautan tersebut. Informasi yang dikoleksi seperti data pribadi, kontak telepon, data kartu kredit dan lain-lain sehingga dapat merugikan pengguna.
Dari kasus tersebut, orang yang minimnya kuriositas atau rasa ingin tahu langsung mempercayai dan menyebarkan kepada orang yang lain. Kuriositas sangatlah penting untuk meminimalisasikan misinformasi dengan cara seperti mengeksplorasi, investigasi terlebih dahulu sebelum mempercayai bahwa informasi yang salah tersebut adalah informasi yang benar. Mengeksplorasi dari beberapa informasi yang sangat dapat diandalkan contohnya berasal dari jurnal yang sudah di review.
Salah satu langkah mencegah misinformasi adalah memberitahukan kepada pengirim informasi tersebut adalah informasi yang salah. Sehingga informasi yang salah tersebut tidak lagi disebarluaskan kepada pengguna media sosial yang lain. Akan tetapi orang yang memberitahukan tersebut harus mengeksplorasi dahulu setelah menerima informasi dan juga menyebarluaskan informasi yang salah dengan keterangan Hoax atau tidak benar.

Reaksimu?

Share dong kak!

Penulis

0 komentar:

Post a Comment

close